Syahrial Jadi Tersangka, Golkar Sumut Koordinasi ke Pimpinan

Medan, CNN Indonesia —

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus suap oleh KPK, Wali Kota Tanjungbalai Muhammad Syahrial masih menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kota Tanjungbalai.

Sebelumnya, KPK menetapkan M. Syahrial sebagai tersangka kasus dugaan suap terhadap penyidik KPK dari unsur Polri demi menyetop kasusnya di lembaga antirasuah.

“Kami belum ada bahas sampai ke sana (pencopotan). Nanti ada ketetapan selanjutnya dan kami tetap koordinasi dengan pimpinan,” kata Sekretaris DPD I Partai Golkar Sumut, Ilhamsyah, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/4).


Dia meminta agar masyarakat mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam kasus yang menimpa Syahrial. 

Terkiat pemberian bantuan hukum kepada M Syahrial, kata Ilhamsyah juga akan dibicarakan dengan pimpinan Golkar.

“Untuk bantuan hukum juga nanti kami bicarakan sama pimpinan,” sebut dia.

Syahrial yang merupakan Wali Kota Tanjungbalai dua periode memiliki harta Rp11,6 miliar. Dalam dunia politik, karier Syahrial terbilang moncer sebagai politikus muda.

Sebelum menjadi Wali Kota Tanjungbalai, Syahrial sempat menjadi anggota DPRD Tanjungbalai dari partai Golongan Karya. Dia pertama kali menjabat anggota DPRD periode 2014-2019.

Selanjutnya M Syahrial langsung dipilih menjadi Ketua DPRD Tanjungbalai. Baru satu tahun, M Syahrial mundur dari Ketua DPRD. Bahkan dia juga mundur dari Partai Golkar. Syahrial memilih maju dari jalur perseorangan.

Syahrial berpasangan dengan Ismail sebagai Wakil Wali Kota Tanjungbalai. Meski dari jalur independen Syahrial meraih suara terbanyak dan memenangkan Pilkada Tanjungbalai periode 2016 – 2021. Bahkan M Syahrial didapuk sebagai Wali Kota termuda di Indonesia.

Di usianya yang 27 tahun, ia dilantik menjadi Wali Kota Tanjungbalai, serta meraih penghargaan dari MURI. Kemudian, Syahrial kembali maju Pilkada Tanjungbalai 2020 berpasangan dengan Waris. Pasangan itu didukung oleh 6 partai politik yakni, Partai Golkar, Gerindra, PDIP, PKS, Demokrat, dan Berkarya.

(fnr/arh)

[Gambas:Video CNN]




Source link